![]() |
| Dahsyatnya Do'a Seorang Ibu |
Dikisahkan, ada seorang ulama besar yang sangat mansyur. Dia ingin sekali pergi kemekah untuk melaksanakan umrah. Tetapi ibunya tidak memberikan izin, meski dirayu dengan segala cara. Akhirnya, nekatlah ulama tersebut untuk berangkat ke tanah suci tanpa izin dari ibunya. Sang ibu yang ditinggal sendirian merasa sedih dan kecewa. Dalam mujarat dan mujahadahnya dia berdoa,
“Ya
Rabb, anakku telah membakarku dengan api perpisahan berikanlah hukuman
padanya.”
Ketika ulama tadi sampai di sebuah kota pada
suatu malam, masuklah ia ke masjid untuk beribadah. Pada waktu bersamaan, ada
pencuri melakukan aksi di sebuah rumah. Pemilik rumah yang tahu kalau
dirumahnya ada tamu tak diundang, lalu berteriak. Larilah si pencuri ke arah
menuju masjid. Warga segera mengejar ke arah larinya pencuri.
Ketika
mereka sampai dipintu masjid, mereka kehilangan jejak si pencuri. Ada yang
berteriak, ”mungkin di dalam masjid.” Mereka akhirnya masuk dan melihat hanya
ada satu orang disana sedang melaksanakan sholat. Spontan, ditangkaplah mereka
ulama tersebut dan diseret paksa ke hadapan walikota.
Walikota
memutuskan ulama tersebut harus dipotong kedua tangan dan kakinya. Serta kedua
matanya dicongkel keluar. Dilaksanakanlah putusan hukuman tersebut. Orang-orang
dipasar berteriak berulang-ulang ”inilah hukuman pencuri.” Tapi ulama tadi
menimpali ”jangan berkata seperti itu, tetapi katakanlah ini adalah balasan
orang yang ingin pergi ke mekah tanpa restu ibunya.” ketika ada sebagian orang
mengenali ulama tersebut dan tahu fakta sebenarnya, mereka yang hadir disitu
menangis dan menyesal. Telah salah tangkap dan menzalimi orang tidak bersalah.
Mereka
akhirnya mengantar ulama tersebut pulang, dan diletakkan di depan pintu
rumahnya.
Ibunya
selama ditinggal pergi sering berdoa, ”Ya Rabb, jika Engkau menimpakan musibah
kepada anakku, pulangkanlah ia kepadaku. Sehingga aku dapat berjumpa
dengannya.”
Didengarnya
dari luar rumah ada suara orang berkata yang tak lain adalah anaknya sendiri,
“Aku musafir yang
kelaparan, berilah aku makanan.”
“Mendekatlah
kepintu!”jawab ibunya.
“Aku tidak punya kaki
untuk bisa berjalan.”
“Ulurkanlah tanganmu!”
“Aku tidak punya kedua
tangan.”
“Jika
aku mendekatimu, ada keharaman antara kita (karena tidak ada hubungan mahram
antara kita).”
“Jangan khawatir, kedua
mataku buta.”
Ibunya
kemudian mengambil sepotong roti dan segelas air, lalu disuguhkan kepada
anaknya meletakkan wajah ditalapak kaki ibunya, seraya berkata, “Aku anakmu
yang durhaka.” Ibu yang segera mengetahui orang tersebut adalah anak
kandungnya, menangis dan berkata, “ Ya Rabb, jika memang keadaannya seperti
ini, cabutlah ruhku dan ruhnya sehingga tidak ada orang yang melihat aib ini.”
sementara sang ibu masih bermunajat kepada Allah, seketika keduanya sudah tidak
bernafas.
Pesan cerita : Bagi para wanita jangan
gampang-gampang mendoakan yang tidak baik pada putra-putrinya. Ketahuilah, doa
kaliam sangat dahsyat.[]
Sumber : Petuah Bijak

